Selasa, 14 Agustus 2012

Saat lebaran datang

Ramadhan hampir usai. Berarti lebaran akan segera datang. Tidak sedikit orang yang mulai menghitung mundur datangnya hari dimana sholat idhul fitri akan ditegakan. Menunggu hari semua sanak saudara jauh datang (bagi orang yang lebih tua, tapi bagi yang lebih muda siap-siap aja datang mengunjungi kerabat yang lebih tua).
Para sesepuh dalam keluarga mulai mempersiapkan rumah mereka untuk menyambut tamu-tamu yang mungkin hanya datang setahun sekali (emangnya silaturahim hanya saat lebaran saja). Mereka membersihkan rumah mereka. Melapisi didnding dan pagar dengan cat yang baru. Mulai memnyiapkan hidangan yang akan disuguhkan.

Anak-anak kecil bergembira karena akan mendapatkan baju baru untuk lebaran (Madang bener sih nasip mereka mau baju baru aja nunggu lebaran). Mereka menunggu saat-saat berkumpul bersama anak-anak lain untuk menyalakan kembang api. Dan tidak bisa dipungkiri lagi mereka menunggu uang jajan tambahan yang akan dibagikan saat berkunjung di rumah kerabat nanti(nah kan ketahuan ni bahwa tidak sedikit orang pelit yang menunggu lebaran untuk ngasih uang kekeponakan atau cucuk mereka).
Swalayan dan pusat perbelanjaan di serbu oleh pembeli. Pasti semua orang sudah tau apa yang dicari. Mereka berburu baju sudah pastilah. Yang memmbuat aku heran kenapasih mereka beli baju saja nunggu lebaran kah harganya baju saat lebaran melonjak bahkan sampai dua kali lipat.
Kalau pun ingin baju baru yang dipakai saat lebaran kenepa mereka ngak baju jauh-jauh hari kemudian disimpan dulu itukan jauh lebih hemat. Selain itu juga lebih puas milihnya karena ngak perlu berdesak-desakan. Tidak perlu ngantri kamar pas. Selain itu berani jamin deh mesti SPGnya juga jauh lebih ramah karena pengunjungnya lebih sepi.
Gula, teh, surup, dan kue kering juga menjadi buruan favorit. Tidak hanya digunakan untuk keperluan pribadi, tapi juga dijadikan oleh-oleh favorit saat berkunjung kerumah saudara. Dasar tidak kreatif. Mereka tidak pernah berfikir apa kalo semua orang bawa oleh-oleh yang sama justru malah mubadzir. Kenapa sih mereka ngak kepikiran bawa diterjen, beras, shampo, sabun, pasta gigi, buah-buahan itu pasti akan lebih berguna dan dikenang.
Sebagian besar orang sudah mulai mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya bulan syawal itu. Mereka yang tingal ditanah rantau sudah bersiap-siap untuk kembali pulang menengok orang tua dan kerabat di kampung halaman yang telah lama ditinggalkan.
Ini adalah musim panen bagi pengusaha angkutan umum. Bahkan aku berani menebah keuntungan mereka naik beberapa kali libat bahkan jika dibandingkan pada musim liburan sekolah. Disinilah hukum pasar bekerja, karena begitu banyak permintaan tiket harganya pun melonjak hingga entahlah berapa kali lipat (jujur saja ya aku todak tau karena belum pernah mudik saat lebaran. Maklumlah penulis adalah penduduk pribumi asli jadi ngak perlu medik).
Kalaupun naik kendaraan pribadi jangan dikira bisa pulang lebih cepat. Kalian akan berhadapan dengan musuh utama pengguna jalan yaitu kemacetan. Sepertinya pemilik jalan dinegeri kita tercinta ini belum bisa mengatasi masalah rutin yang entah sudah dimulai sejak (seingat ku sih memang selalu macet saat lebaran).
Semoga saja tidak ada yang sial, sehingga mereka haris berjumpa dengan ”penguasa jalan” yang telah lama memmpersiapkan siri untuk ”menyambut” kedatangan para pemudik. Mereka telah bersiap untuk ”mengamankan” barang bawaan pemudik mulai dari oleh-oleh, kendaraan, barang bawaan hingga uang pemudik.
”Penguasa jalan” kita belajar dengan capat terhadap perkembangan musim, ternologi dan kebutuhan masyarakat. Semakin lama mereka semakin kreatif dan inovatif dalam menjalankan tugas mereka. Butkinya aja mereka sampai sekarang belum punah meskipun sudah diburu bertahun-tahun oleh berbataleon-bataleon apatarat kepolisian.
Meskipun berprasangka buruk itu dilarang. Tapi untuk saat seperti ini menurutku sih ngak apa-apa sedikit berprasangkan buruk kepada orang-orang yang tidak dikenal. Ini penting bagi kemanan dan keselamatan harta dan nyawa kita.
Bank juga ikut bersaing (terutama bank Indonesia). Mau tau mereka ngapain nyerbu bank. Jawabannya sangat selas, mereka menukarkan uang menjadi pecahan kecil. Maklum kalo semua dikasih dalan jumlah yang besar bisa bokek nih para sesepuh keluarga.
Eit ada lagi yang ramai. Toko mas. Bagi mereka yang memiliki gengsi yang tinggi dan tukang pamer. Mereka selalu menyempatkan diri mengunjungi toko emas. Entah apa yang mau sibeli gelang, cincin, atau kalung. Yang penting gaya lah. Setelah lebaran selesai toko mas kembali kaya. Tapi kali ini giliran toko emas yang membeli perhiasan. Herannya itu konsumen g mikir apa, kalau mereka itu rugi setelah jual emas. Dimana-mana harga jual itu lebih rendah dari harga beli.
Ok, itu semua adahah hal yang rutin terjadi saat lebaran. Semoga ada hal yang baru yang lebih menantang saat lebaran tahun ini. Hanya agar kita tidak terjebak dalam rutinitas yang ada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar